Ada dua hal yang sering bikin kita lengah: niat baik dan angka besar.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) datang dengan niat yang nyaris tak terbantahkan. Siapa yang berani menolak anak sekolah dapat makanan bergizi? Di atas kertas, ini bukan cuma soal makan siang. Ini soal masa depan, stunting, kualitas SDM, bahkan mimpi Indonesia Emas.
Tapi begini.
Dalam sejarah kebijakan publik di negeri ini, semakin besar anggarannya, semakin besar pula tanggung jawabnya. Dan kadang, semakin besar pula ruang yang bisa bikin kita mengelus dada.
Bukan karena programnya salah.
Bukan juga karena niatnya keliru.
Tapi karena sistem kita sering kali belum sekuat optimisme kita.
Niat Baik Tidak Otomatis Anti-Masalah
MBG adalah program raksasa. Skala nasional. Anggaran triliunan. Distribusi lintas daerah. Ribuan vendor. Banyak pihak terlibat.
Dalam teori kebijakan publik, program seperti ini disebut “high exposure program”: legitimasi politiknya tinggi, sorotan publiknya besar, tapi kompleksitasnya juga luar biasa.
Di titik inilah pertanyaannya muncul—bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menjaga:
- Apakah pengawasannya cukup kuat?
- Apakah sistem pengadaannya transparan?
- Apakah desainnya tahan terhadap godaan klasik birokrasi?
Pertanyaan bukan berarti tuduhan.
Justru pertanyaan adalah bentuk kepedulian.
Lahan Basah Itu Bukan Tuduhan, Tapi Peringatan
Kita sering alergi dengan kata “kerentanan”. Padahal dalam kebijakan publik, mengakui adanya risiko justru tanda kedewasaan.
Program dengan anggaran besar tanpa pengawasan ekstra bisa berubah dari solusi menjadi problem baru. Bukan karena semua orang berniat jahat, tapi karena sistem yang longgar sering kali menggoda.
Dan kita tahu, dalam sejarah panjang tata kelola anggaran negara, “celah kecil” bisa menjadi cerita panjang.
Mengkritik Bukan Membenci
Yang perlu digarisbawahi: mengkritik MBG bukan berarti menolak MBG.
Mendukung program sosial bukan berarti menutup mata terhadap potensi masalahnya.
Justru jika kita sepakat bahwa program ini penting, maka kita juga harus sepakat bahwa ia layak diawasi dengan serius. Karena program yang baik seharusnya kuat diuji, bukan kebal dari pertanyaan.
Kalau memang desainnya solid, ia akan lolos dari kritik.
Kalau ada yang perlu diperbaiki, kritik adalah vitamin, bukan racun.
Antara Optimisme dan Kewaspadaan
Kita boleh optimis.
Tapi jangan sampai optimisme membuat kita lalai.
Negara yang dewasa bukan negara yang alergi kritik, tapi negara yang mampu menjadikan kritik sebagai mekanisme perbaikan.
MBG bisa jadi tonggak penting dalam sejarah kebijakan pendidikan dan kesehatan kita. Tapi agar ia benar-benar menjadi tonggak, bukan catatan kaki polemik, maka transparansi dan akuntabilitas bukan pilihan tambahan—melainkan syarat utama.
Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan cuma program.
Yang kita jaga adalah kepercayaan.