Refleksi atas Kampus, Dialog, dan Kebiasaan Kita Mendengar yang Berbeda

Beberapa hari terakhir, publik kembali menyoroti dunia kampus. Sebuah diskusi yang menghadirkan sejumlah pejabat negara di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) menuai protes dari sebagian mahasiswa. Sebagian menilai forum tersebut tidak cukup kritis terhadap pemerintah. Sebagian lainnya justru menganggap pembubaran atau penolakan forum bertentangan dengan semangat akademik yang selama ini dijunjung tinggi oleh kampus.

Perdebatan pun meluas. Media sosial ramai. Opini bermunculan. Setiap orang tampak memiliki posisi masing-masing.

Namun di tengah hiruk-pikuk tersebut, ada satu pertanyaan yang menarik untuk diajukan:

"Apakah kita sedang memperjuangkan demokrasi, atau hanya memperjuangkan pendapat yang sesuai dengan keyakinan kita sendiri?"

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak persoalannya.

Demokrasi yang Kita Bayangkan

Sejak duduk di bangku sekolah, kita diajarkan bahwa demokrasi adalah ruang kebebasan. Setiap warga negara berhak menyampaikan pendapatnya. Setiap orang berhak mengkritik kebijakan pemerintah. Setiap kelompok memiliki hak yang sama untuk didengar.

Dalam teori, demokrasi terdengar indah.

Namun demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang hak untuk berbicara. Demokrasi juga berbicara tentang kesediaan untuk mendengar.

Dan di sinilah banyak orang mulai merasa tidak nyaman.

Kita senang ketika pendapat kita mendapat panggung.

Kita senang ketika suara kita didengar.

Kita senang ketika orang lain memberikan ruang bagi gagasan kita.

Namun bagaimana jika ruang yang sama diberikan kepada orang yang tidak kita sukai?

Bagaimana jika mikrofon diberikan kepada pihak yang selama ini kita kritik?

Bagaimana jika panggung justru digunakan oleh mereka yang berbeda pandangan dengan kita?

Apakah kita masih percaya pada demokrasi?

Ataukah kita hanya percaya pada demokrasi selama ia membenarkan posisi kita?

Kampus dan Tradisi Dialog

Kampus sejak lama dikenal sebagai ruang pertarungan gagasan.

Di kampus, sebuah pendapat tidak seharusnya dimenangkan karena siapa yang mengucapkannya. Pendapat diuji melalui argumentasi, data, dan logika.

Karena itu, kampus idealnya menjadi tempat yang aman bagi berbagai pandangan untuk saling bertemu.

Bukan berarti semua pandangan harus diterima.

Bukan pula berarti semua narasumber selalu benar.

Namun setiap gagasan berhak diuji.

Dan cara terbaik menguji gagasan bukanlah dengan membungkamnya, melainkan dengan mempertanyakannya.

Dalam tradisi akademik, argumen dilawan dengan argumen.

Data dibalas dengan data.

Pemikiran ditantang dengan pemikiran.

Sebab kampus tidak dibangun untuk menciptakan keseragaman. Kampus dibangun untuk melatih kemampuan berpikir.

Ketika Kita Hanya Mau Mendengar yang Sama

Persoalan yang terjadi hari ini sebenarnya lebih besar daripada satu diskusi di satu kampus.

Fenomena ini terjadi hampir di seluruh ruang publik.

Di media sosial, kita cenderung mengikuti akun yang sejalan dengan pandangan kita.

Kita membaca berita yang menguatkan keyakinan kita.

Kita bergabung dengan kelompok yang memiliki pandangan yang sama.

Lambat laun, kita hidup di dalam ruang gema (echo chamber).

Di dalam ruang itu, semua orang terdengar sepakat.

Semua informasi mengarah pada kesimpulan yang sama.

Semua pendapat tampak benar.

Sampai suatu hari muncul suara yang berbeda.

Dan suara itu terasa mengganggu.

Bukan karena salah.

Tetapi karena berbeda.

Di titik inilah demokrasi mulai kehilangan maknanya.

Kita tidak lagi mencari kebenaran.

Kita mencari kenyamanan.

Kita tidak lagi mencari argumentasi terbaik.

Kita mencari pembenaran atas apa yang sejak awal sudah kita yakini.

Bahaya Polarisasi

Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengalami kondisi seperti ini.

Di berbagai negara demokratis, polarisasi politik semakin kuat.

Masyarakat terbelah ke dalam kelompok-kelompok yang semakin sulit berdialog.

Masing-masing merasa memiliki kebenaran.

Masing-masing merasa menjadi korban.

Masing-masing merasa sedang menyelamatkan demokrasi.

Ironisnya, semakin keras setiap kelompok mengaku membela demokrasi, semakin sempit ruang dialog yang tersedia.

Akibatnya, lawan politik tidak lagi dianggap sebagai pihak yang berbeda pendapat.

Mereka dianggap musuh.

Dan ketika seseorang telah dianggap musuh, maka yang dicari bukan lagi pemahaman.

Yang dicari adalah kemenangan.

Mahasiswa dan Tanggung Jawab Intelektual

Mahasiswa memiliki posisi yang unik dalam masyarakat.

Mereka bukan sekadar penonton.

Mereka juga bukan bagian dari penguasa.

Mahasiswa berada di antara keduanya.

Karena itu, tanggung jawab mahasiswa bukan hanya mengkritik kekuasaan.

Mahasiswa juga harus berani mengkritik dirinya sendiri.

Apakah kritik yang disampaikan benar-benar berdasarkan data?

Apakah penolakan yang dilakukan lahir dari kajian yang matang?

Apakah setiap tindakan benar-benar bertujuan mencari kebenaran?

Ataukah hanya bertujuan memenangkan kelompok tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting.

Karena intelektual sejati tidak takut pada perbedaan pendapat.

Ia justru tumbuh dari perbedaan tersebut.

Mendengar Bukan Berarti Setuju

Salah satu kesalahpahaman terbesar dalam kehidupan demokrasi adalah anggapan bahwa mendengar berarti menyetujui.

Padahal keduanya berbeda.

Mendengar adalah bentuk penghormatan.

Setuju adalah bentuk penilaian.

Kita dapat mendengar seseorang tanpa harus menyetujui seluruh pendapatnya.

Kita dapat memberikan ruang dialog tanpa harus mengamini semua yang disampaikan.

Justru kemampuan membedakan keduanya merupakan tanda kedewasaan demokrasi.

Jika setiap orang yang berbeda langsung ditolak, maka ruang belajar akan menghilang.

Jika setiap suara yang tidak sejalan langsung dianggap ancaman, maka demokrasi hanya akan menjadi slogan.

Yang Sedang Hilang

Mungkin yang sedang hilang dari kehidupan publik kita bukanlah kebebasan berbicara.

Media sosial penuh dengan pendapat.

Komentar muncul setiap detik.

Kritik hadir di mana-mana.

Yang sedang hilang justru kemampuan mendengar.

Kemampuan untuk duduk bersama orang yang berbeda.

Kemampuan untuk menerima bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman dan sudut pandang yang tidak sama dengan kita.

Kemampuan untuk mengakui bahwa kebenaran tidak selalu datang dari pihak yang kita sukai.

Dan mungkin, itulah tantangan terbesar demokrasi hari ini.

Penutup

Pada akhirnya, demokrasi tidak diuji ketika kita mendengar orang yang kita sukai.

Demokrasi diuji ketika kita harus mendengar orang yang tidak kita sukai.

Sebab jika kebebasan berbicara hanya berlaku bagi mereka yang sependapat dengan kita, maka yang tersisa bukanlah demokrasi.

Yang tersisa hanyalah gema dari suara kita sendiri.

Dan sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa masyarakat yang hanya mau mendengar dirinya sendiri akan kesulitan menemukan kebenaran.

Karena kebenaran sering kali lahir dari pertemuan berbagai pandangan, bukan dari kemenangan satu suara atas suara yang lain.

Maka mungkin sudah saatnya kita kembali mengingat esensi sederhana demokrasi:

Silakan bicara. Silakan berbeda. Silakan berdebat.

Tetapi jangan pernah kehilangan keberanian untuk mendengar.