Di desa saya tidak ada demonstrasi besar. Tidak ada spanduk bertuliskan Indonesia Gelap. Tidak ada pula pengeras suara yang menggema seperti di Bundaran HI Jakarta atau kawasan kampus Universitas Gadjah Mada. Tidak ada mahasiswa yang berbaris panjang membawa tuntutan perubahan. Tidak ada pula orasi yang menggelegar menantang kekuasaan.

Namun belakangan, saya menemukan sesuatu yang berbeda.

Di warung kopi, para petani mulai lebih sering membicarakan harga pupuk dibanding hasil panen. Di teras rumah, orang tua murid mulai bertanya tentang biaya pendidikan anak-anak mereka beberapa tahun ke depan. Di antara para pemuda desa, muncul obrolan tentang sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan yang telah ditempuh.

Mereka mungkin tidak pernah menulis tagar #IndonesiaGelap. Mereka mungkin tidak ikut demonstrasi. Namun kegelisahan yang sama ternyata hidup di ruang-ruang sederhana itu.

Barangkali, inilah wajah lain dari Indonesia Gelap yang jarang dibicarakan.

Indonesia Gelap dan Keresahan yang Menular

Beberapa bulan terakhir, media sosial dipenuhi berbagai slogan yang mencerminkan kecemasan publik. Mulai dari Indonesia Gelap, Kabur Aja Dulu, hingga Nepalkan Indonesia. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Sebagian lainnya melihatnya sebagai ekspresi frustrasi generasi muda terhadap masa depan yang terasa semakin tidak pasti.

Fenomena ini tidak boleh dibaca secara dangkal.

Kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah menganggap seluruh kritik tersebut sebagai bentuk kebencian terhadap pemerintah. Padahal belum tentu demikian.

Bisa jadi yang sedang terjadi adalah krisis kepercayaan.

Masyarakat tidak selalu marah karena tidak setuju dengan setiap kebijakan. Kadang mereka marah karena merasa tidak didengar.

Di sinilah letak persoalannya.

Ketika pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, sebagian masyarakat berbicara tentang biaya hidup yang semakin tinggi. Ketika negara berbicara tentang bonus demografi dan Indonesia Emas 2045, sebagian anak muda justru bertanya apakah mereka akan memiliki pekerjaan yang layak lima tahun lagi.

Ada jarak antara optimisme negara dan pengalaman sehari-hari masyarakat.

Dan jarak itulah yang perlahan melahirkan keresahan.

Mengapa Kata Revolusi Kembali Terdengar?

Menariknya, di tengah berbagai kritik yang muncul, kata yang mulai sering terdengar adalah revolusi.

Dalam sejarah, revolusi bukanlah sesuatu yang lahir dalam semalam. Revolusi tidak muncul hanya karena satu kebijakan yang tidak populer. Revolusi lahir dari akumulasi kekecewaan yang berlangsung lama.

Revolusi Prancis tidak terjadi karena harga roti naik dalam satu hari. Reformasi 1998 tidak terjadi hanya karena nilai rupiah melemah. Semua perubahan besar dalam sejarah selalu didahului oleh ketidakpuasan yang menumpuk dan rasa kehilangan kepercayaan terhadap sistem yang ada.

Namun apakah Indonesia sedang menuju revolusi?

Menurut saya, belum.

Indonesia masih memiliki mekanisme demokrasi yang bekerja. Pemilu masih berlangsung. Kritik masih bisa disampaikan. Pers masih memiliki ruang untuk mengawasi kekuasaan.

Akan tetapi, maraknya narasi revolusi menunjukkan satu hal yang perlu diperhatikan: semakin banyak orang yang merasa perubahan berjalan terlalu lambat.

Mereka tidak selalu ingin menjatuhkan negara. Mereka hanya ingin hidup yang lebih baik.

Dari Bundaran HI hingga Pinggiran Negeri

Demonstrasi di Jakarta mudah menjadi berita nasional. Aksi mahasiswa di Yogyakarta cepat menyebar melalui media sosial. Tetapi bagaimana dengan desa-desa yang jauh dari pusat perhatian?

Di sinilah saya merasa perlu melihat persoalan dari sudut yang berbeda.

Sebagai seorang guru di desa, saya tidak menemukan masyarakat yang setiap hari berbicara tentang ideologi, revolusi, atau pergantian kekuasaan.

Yang mereka bicarakan jauh lebih sederhana.

Bagaimana harga kebutuhan pokok bulan depan.

Bagaimana biaya sekolah anak.

Bagaimana mendapatkan pekerjaan yang layak.

Bagaimana bertahan ketika penghasilan tidak bertambah tetapi pengeluaran terus meningkat.

Keresahan mereka mungkin tidak viral. Tidak masuk trending topic. Tidak menjadi headline media nasional.

Namun justru keresahan seperti inilah yang menentukan bagaimana masyarakat memandang masa depan.

Karena pada akhirnya, persepsi terhadap negara sering kali dibentuk bukan oleh pidato para elite, melainkan oleh pengalaman hidup sehari-hari.

Nepalkan Indonesia: Simbol atau Ancaman?

Belakangan muncul pula slogan yang cukup kontroversial: Nepalkan Indonesia.

Sebagian orang menganggap slogan ini berlebihan. Sebagian lainnya menggunakannya sebagai bentuk sindiran terhadap kondisi politik dan ekonomi nasional.

Namun menurut saya, yang penting bukanlah slogannya.

Yang penting adalah mengapa slogan seperti itu bisa mendapatkan perhatian.

Dalam ilmu politik, simbol-simbol semacam ini biasanya muncul ketika masyarakat mulai mencari bahasa baru untuk mengekspresikan kekecewaannya.

Artinya, persoalan yang perlu dijawab bukanlah siapa yang membuat slogan tersebut.

Persoalan yang lebih penting adalah apa yang membuat banyak orang merasa slogan itu relevan.

Indonesia Tidak Kekurangan Pemimpin

Dalam setiap gelombang kritik, selalu muncul tuntutan pergantian pemimpin.

Padahal pengalaman sejarah menunjukkan bahwa mengganti pemimpin jauh lebih mudah dibanding memperbaiki sistem.

Indonesia telah berganti presiden berkali-kali sejak Reformasi 1998. Namun persoalan seperti korupsi, ketimpangan pendidikan, birokrasi yang lambat, dan kesenjangan pembangunan masih terus menjadi pekerjaan rumah.

Karena itu saya tidak yakin bahwa jawaban dari seluruh keresahan ini adalah revolusi.

Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian melakukan reformasi yang sesungguhnya.

Reformasi hukum.

Reformasi pendidikan.

Reformasi birokrasi.

Reformasi ekonomi.

Sebab tanpa perbaikan sistem, pergantian pemimpin hanya akan menghasilkan pergantian wajah, bukan perubahan keadaan.

Bahaya yang Sebenarnya

Sebagian orang menganggap demonstrasi mahasiswa sebagai ancaman.

Menurut saya, bukan itu bahaya yang sesungguhnya.

Bahaya terbesar bagi sebuah negara adalah ketika rakyat berhenti percaya bahwa perubahan masih mungkin dilakukan melalui cara-cara demokratis.

Ketika masyarakat merasa suaranya tidak lagi berarti.

Ketika kritik dianggap musuh.

Ketika aspirasi dianggap gangguan.

Pada titik itulah jarak antara negara dan rakyat menjadi semakin lebar.

Dan sejarah menunjukkan bahwa tidak ada negara yang benar-benar aman ketika jarak itu terus dibiarkan tumbuh.

Penutup

Indonesia Gelap mungkin hanya sebuah tagar. Revolusi mungkin hanya sebuah slogan. Nepalkan Indonesia mungkin hanya sebuah sindiran.

Namun di balik semua itu terdapat sesuatu yang jauh lebih penting: keresahan.

Keresahan tentang pekerjaan.

Keresahan tentang pendidikan.

Keresahan tentang biaya hidup.

Keresahan tentang masa depan.

Sebagai orang desa, saya tidak melihat Indonesia sebagai negara yang sedang runtuh. Tetapi saya juga tidak bisa menutup mata bahwa kegelisahan itu nyata.

Mungkin Indonesia tidak sedang gelap.

Namun jika suara-suara dari pinggiran terus diabaikan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti kita akan kesulitan menemukan cahaya yang selama ini kita banggakan.