Ketika Anggaran Keamanan Membesar, Demonstrasi Menggema, dan Rakyat Mencemaskan Hari Esok

Beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia dipenuhi oleh berbagai percakapan yang tidak selalu nyaman. Di media sosial, tagar seperti Indonesia Gelap dan berbagai seruan perubahan terus berseliweran. Di jalanan, mahasiswa kembali turun menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Di kampus-kampus, diskusi mengenai demokrasi, ekonomi, dan masa depan bangsa kembali menemukan momentumnya.

Di saat yang sama, negara juga menunjukkan gejala yang menarik. Berbagai institusi keamanan diperkuat, kebutuhan anggaran keamanan meningkat, dan sejumlah regulasi yang berkaitan dengan tata kelola keamanan nasional menjadi perhatian publik. Pemerintah tentu memiliki alasan untuk itu. Setiap negara membutuhkan stabilitas agar pembangunan dapat berjalan. Tidak ada pembangunan tanpa keamanan.

Namun di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan sederhana yang mungkin mewakili kegelisahan banyak orang:

Negara sedang takut apa?

Pertanyaan ini bukanlah tuduhan. Ia bukan pula bentuk kecurigaan. Sebaliknya, ia adalah upaya untuk memahami arah kebijakan yang sedang ditempuh bangsa ini. Sebab sering kali, cara sebuah negara mengalokasikan anggaran dan menentukan prioritas kebijakannya mencerminkan apa yang dianggap sebagai ancaman terbesar.

Ketakutan yang Tidak Selalu Terlihat

Setiap negara memiliki ketakutannya sendiri.

Pada masa lalu, Indonesia pernah takut pada disintegrasi bangsa. Kita pernah menghadapi konflik sosial, gerakan separatis, hingga ancaman terorisme yang nyata. Karena itu, negara membangun berbagai instrumen keamanan untuk menjaga keutuhan nasional.

Hari ini ancamannya berbeda.

Dunia sedang menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Konflik geopolitik di berbagai kawasan dunia memengaruhi perdagangan internasional. Perubahan iklim menghadirkan ancaman baru terhadap ketahanan pangan. Perkembangan teknologi digital melahirkan bentuk-bentuk kejahatan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Dalam perspektif pemerintah, ancaman-ancaman tersebut tentu memerlukan kesiapan negara yang lebih baik. Modernisasi institusi keamanan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan sistem pengawasan dapat dipandang sebagai kebutuhan yang wajar.

Namun persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya ancaman tersebut.

Persoalannya adalah apakah masyarakat melihat ancaman yang sama seperti yang dilihat negara?

Ketakutan yang Hidup di Tengah Masyarakat

Bagi sebagian besar masyarakat, ancaman terbesar bukanlah konflik geopolitik atau kejahatan siber internasional.

Ancaman terbesar mereka jauh lebih dekat.

Harga kebutuhan pokok.

Lapangan pekerjaan.

Biaya pendidikan.

Biaya kesehatan.

Kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga hingga akhir bulan.

Ketika seorang petani khawatir harga hasil panennya jatuh, ia sedang menghadapi ancamannya sendiri.

Ketika seorang lulusan perguruan tinggi kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak, ia juga sedang menghadapi ancamannya sendiri.

Ketika orang tua harus menghitung kembali pengeluaran rumah tangga karena biaya hidup meningkat, di situlah ancaman itu terasa nyata.

Ancaman bagi masyarakat sering kali tidak hadir dalam bentuk yang spektakuler. Ia tidak muncul dalam berita utama. Ia tidak mengundang konferensi pers.

Namun ancaman itu hadir setiap hari di meja makan keluarga Indonesia.

Mengapa Demonstrasi Kembali Muncul?

Dalam sejarah Indonesia, demonstrasi hampir selalu lahir dari perasaan bahwa suara masyarakat tidak cukup didengar.

Mahasiswa yang turun ke jalan tidak selalu menuntut revolusi. Sebagian besar hanya ingin memastikan bahwa pemerintah tetap mendengar aspirasi publik. Demonstrasi adalah bagian dari kehidupan demokrasi.

Masalah muncul ketika setiap kritik dianggap ancaman.

Padahal kritik bukan ancaman negara.

Justru kritik adalah mekanisme yang membuat negara tetap sehat.

Dalam demokrasi, mahasiswa yang berdemo dan pemerintah yang menjalankan kebijakan seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua kubu yang saling bermusuhan. Keduanya merupakan bagian dari sistem yang sama.

Negara membutuhkan kritik agar tidak kehilangan arah.

Sementara masyarakat membutuhkan negara agar kehidupan bersama tetap berjalan dengan tertib.

Karena itu, ketika gelombang kritik kembali bermunculan, pertanyaan yang lebih penting bukanlah bagaimana membungkam kritik tersebut, melainkan mengapa kritik itu muncul.

Ketika Anggaran Menjadi Bahasa Politik

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam diskusi publik.

Anggaran bukan sekadar angka.

Anggaran adalah bahasa politik.

Melalui anggaran, pemerintah menunjukkan apa yang dianggap penting.

Ketika negara mengalokasikan dana besar untuk pendidikan, negara sedang mengatakan bahwa pendidikan adalah prioritas.

Ketika negara mengalokasikan dana besar untuk kesehatan, negara sedang mengatakan bahwa kesehatan adalah prioritas.

Begitu pula ketika sektor keamanan memperoleh perhatian besar.

Tentu tidak berarti sektor lain diabaikan. Namun masyarakat berhak bertanya mengenai alasan di balik prioritas tersebut.

Pertanyaan itu bukan bentuk pembangkangan.

Sebaliknya, itulah esensi partisipasi warga negara dalam demokrasi.

Karena uang negara pada akhirnya berasal dari rakyat dan digunakan untuk kepentingan rakyat.

Negara dan Rakyat Sering Kali Takut pada Hal yang Berbeda

Di sinilah persoalan menjadi menarik.

Bisa jadi negara sedang takut pada instabilitas politik.

Bisa jadi negara sedang takut pada ancaman keamanan masa depan.

Bisa jadi negara sedang mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang belum sepenuhnya dipahami publik.

Namun rakyat juga memiliki ketakutan yang tidak kalah besar.

Mereka takut kehilangan pekerjaan.

Takut pendidikan anak-anak mereka terganggu.

Takut biaya hidup semakin mahal.

Takut masa depan menjadi semakin tidak pasti.

Masalahnya bukan karena negara salah atau rakyat salah.

Masalah muncul ketika kedua ketakutan itu tidak lagi saling bertemu.

Ketika negara berbicara tentang stabilitas nasional, sementara rakyat berbicara tentang kebutuhan sehari-hari.

Ketika negara berbicara tentang ancaman masa depan, sementara rakyat masih berjuang menghadapi masalah hari ini.

Pelajaran dari Pinggiran

Sebagai seseorang yang hidup dan bekerja jauh dari pusat kekuasaan, saya melihat Indonesia dari sudut yang berbeda.

Saya melihat anak-anak yang datang ke sekolah dengan harapan sederhana untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Saya melihat orang tua yang bekerja keras agar anak-anak mereka dapat melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.

Saya melihat masyarakat yang tidak terlalu peduli pada perdebatan elite politik, tetapi sangat peduli pada harga beras, pupuk, dan biaya sekolah.

Di desa, kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri.

Namun bukan berarti masyarakat desa tidak memahami situasi bangsa.

Mereka memahami ketika ekonomi sedang sulit.

Mereka memahami ketika kesempatan kerja berkurang.

Mereka memahami ketika ada ketidakadilan yang dirasakan.

Dan mereka juga memahami ketika negara tampak lebih sibuk mengurus sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan mereka.

Di sinilah pemerintah perlu berhati-hati.

Karena kepercayaan publik tidak dibangun melalui pidato atau slogan.

Kepercayaan dibangun ketika masyarakat merasa bahwa negara memahami kegelisahan mereka.

Demokrasi Tidak Takut pada Pertanyaan

Ada satu prinsip penting yang perlu terus diingat.

Demokrasi tidak takut pada pertanyaan.

Sebaliknya, demokrasi justru tumbuh dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan warga negaranya.

Ketika masyarakat bertanya mengenai anggaran, itu bukan ancaman.

Ketika mahasiswa mengkritik kebijakan, itu bukan ancaman.

Ketika media menyoroti keputusan pemerintah, itu bukan ancaman.

Semua itu adalah bagian dari mekanisme yang menjaga agar kekuasaan tetap berada dalam koridor yang benar.

Negara yang kuat bukanlah negara yang bebas dari kritik.

Negara yang kuat adalah negara yang mampu menjawab kritik dengan argumentasi, transparansi, dan kinerja yang baik.

Jadi, Negara Sedang Takut Apa?

Mungkin negara memang memiliki alasan untuk memperkuat berbagai institusinya.

Mungkin ada tantangan besar yang sedang dipersiapkan untuk dihadapi.

Mungkin pula ada pertimbangan strategis yang tidak sepenuhnya terlihat oleh publik.

Namun jika pertanyaan itu diajukan kepada saya, jawaban yang lebih penting justru bukan mengenai apa yang ditakuti negara.

Melainkan apa yang ditakuti rakyat.

Karena sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh kekuatan institusinya.

Bangsa juga dibentuk oleh harapan masyarakatnya.

Apabila rakyat kehilangan harapan, maka stabilitas yang dibangun dengan susah payah akan menjadi rapuh.

Apabila rakyat kehilangan kepercayaan, maka pembangunan akan kehilangan maknanya.

Pada akhirnya, negara yang paling aman bukanlah negara yang memiliki anggaran keamanan terbesar atau aparat yang paling kuat.

Negara yang paling aman adalah negara yang rakyatnya masih percaya bahwa hari esok akan lebih baik daripada hari ini.

Dan mungkin, sebelum bertanya apa yang sedang ditakuti negara, kita perlu bertanya lebih dahulu:

Apakah negara sudah cukup mendengar apa yang sedang ditakuti rakyatnya?